
Karakteristik Fluida
ABSTRAK
Fluida adalah suatu zat yang dapat
mengalir dan dapat mengalami perubahan-perubahan bentuk secara kontinyu atau
terus menerus bila terkena tekanan atau gaya walaupun relatif kecil. Viskositas dari
suatu fluida adalah besaran yang menunjukkan tahanan gesekan terhadap aliran. Shear
stress (τ) adalah istilah yang diberikan untuk stress yang diinduksi
saat molekul saling melewati satu sama lain sepanjang bidang yang ditentukan.
Gradien kecepatan (-dV/dr atau γ) adalah ukuran
seberapa cepat satu molekul tergelincir melewati yang
lainnya, oleh karena itu, juga disebut sebagai shear rate. Rheologi
menggambarkan hubungan antara gaya, deformasi dan waktu. Dari hasil praktikum didapatkan nilai viskositas air pada
alat corong kapiler, tube viscometer, dan viskometer digital sebesar
0.017 Pa.s, 0.38808 Pa.s dan 0.026 Pa.s sedangkan pada sampel susu didapatkan
viskositas pada alat corong kapiler dan pada viskometer digital sebesar 0.019
Pa.s dan 0.21 Pa.s.
Kata kunci: rheologi, shear stress, shear rate, viskometer,
viskositas
ABSTRACT
Fluid is a substance that can flow and can changes continuously
when exposed to pressure or force although relatively small. Viscosity is a
measure of resistance to flow of a fluid. Shear stress (τ)
is the term given to the stress induced when molecules slip past one another
along a defined plane. The velocity gradient (-dV/dr or γ) is a measure of how
rapidly one molecule is slipping past another, therefore, it is also referred
to as the rate of shear. Rheology describes the relationship between force,
deformation and time. From the result of the experiment, the viscosity value of
water in capillary funnel device, viscometer tube, and digital viscometer is
0.017 Pa.s, 0.38808 Pa.s and 0.26 Pa.s and in the milk samples obtained
viscosity in capillary funnel and on a digital viscometer of 0.019 Pa .s and
0.021 Pa.s.
Key words: rheology, shear stress, shear rate, viscometer,
viscosity
PENDAHULUAN
Fluida adalah suatu zat yang dapat mengalir dan dapat mengalami
perubahan-perubahan bentuk secara kontinyu atau terus menerus bila terkena
tekanan atau gaya walaupun relatif kecil. Fluida mencakup zat cair, gas, air
dan udara. Memahami karakteristik fluida bahan sangat penting terutama dalam
transport bahan. Transport bahan cairan biasanya akan lebih mudah dan efisien
jika dilakukan dengan pipa-pipa (Setiasih, 2008).
Konsep viskositas berawal dari fluida yang bersentuhan dengan
dinding, memiliki kecepatan aliran linier sama dengan nol, kecepatan linier
tersebut bila diikuti dari permukaan dinding ke arah sumbu aliran akan
bertambah harganya. Keadaan demikian menunjukkan adanya tahanan terhadap aliran
yang bersangkuta, sedangkan indeks konsistensi (k) adalah tingkat mudah atau
tidaknya fluida mengalir. Konsistensi sebenarnya salah satu ukuran dan tahanan
internal terhadap cairan. Namun kini sebagian besar peralatan yang digunakan
untuk mengukur konsistensi dari fluida termasuk bahan pangan yang dapat
mengalir menunjukkan hasil pengukuran yang dinyatakan dalam satuan viskositas.
Oleh karena itu, viskositas dari suatu fluida adalah besaran yang menunjukkan
tahanan gesekan terhadap aliran (Nurhasanah dan Bambang, 2010).
Shear stress (τ) adalah istilah yang diberikan untuk stress
yang diinduksi saat molekul saling melewati satu sama lain sepanjang bidang
yang ditentukan. Gradien kecepatan (-dV/dr atau γ) adalah ukuran seberapa cepat
satu molekul tergelincir melewati yang lainnya, oleh karena itu, juga disebut
sebagai shear rate. Posisi dari mana jarak diukur menentukan shear rate
adalah titik aliran dimana kecepatan maksimum, oleh karena itu, karena jarak r
meningkat dari titik acuan ini, V berkurang dan gradien kecepatan adalah kuantitas
negatif. Karena shear stress selalu positif, dengan menyatakan shear rate
sebagai -dV / dr memenuhi persamaan shear stress sebagai fungsi shear
rate. Fluida yang menunjukkan peningkatan linear pada shear stress dengan
shear rate disebut fluida Newtonian sedangkan (μ) disebut viskositas (Toledo,
2007).
Rheologi adalah studi tentang aliran dan
deformasi materi dari padatan ke gas. Rheologi menggambarkan hubungan antara
gaya, deformasi dan waktu. Itu berasal dari Yunani "rheos" yang
berarti mengalir. Konsistensi produk yang berbeda menggambarkan reologi fluida.
Reologi fluida dipelajari dengan viskositas dan elastisitas (Carman, 2008).
METODOLOGI
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan yaitu corong kapiler, penggaris,
piala gelas, stopwatch, tube viscometer dan viskometer digital.
Bahan yang digunakan yaitu air dan susu.
Corong Kapiler
Dipasang alat sesuai pada gambar kemudian
mulut corong ditutup dahulu. Diukur R, Apipa dan ρsampel, kemudian
sampel dimasukkan sampai batas h1 dan dibuka pipa hingga sampel mencapai h2, dicatat
waktu dan volume yang keluar. Prosedur ini diulangi sampai h6. Setelah
itu hitung viskositasnya dengan cara:
Gambar
3. Tube Viscometer
Pertama ditahan pipa kecil kemudian
dimasukkan sampel sampai garis I. Selanjutnya pipa dibuka hingga sampel
mencapai garis II, selama proses diukur dan dicatat waktunya. Kemudian dihitung
menggunakan rumus:
(Heldman
dan Singh, 1981)
Gambar
4. Viskometer Digital
Pertama dipasang spindel pada alat
dan alat dinyalakan. Diatur pada alat jenis spindel yang digunakan dan
RPMnya. Dimasukkan sampel ke dalam wadah dan spindel direndam hingga
setingg sampel dan kemudian ditekan
tombol start pada alat maka langsung keluar hasilnya sebagai satuan mPas
(%kepercayaannya harus diantara 15-90%).
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Gambar 6. Grafik
Hubungan pada Sampel Susu
Tabel
1. Hasil
Pengamatan pada Corong Kapiler
Sampel
|
h
(cm)
|
t
(s)
|
V
(mL)
|
Q
(cm3/s)
|
Ṽ (cm/s)
|
x
|
Y
|
k
|
μ
|
|
Air
|
43.5
|
6.11
|
200
|
32.73
|
151.86
|
7.75
|
6.05
|
0.9955
|
4.28
|
0.1825
|
38.5
|
5.49
|
150
|
27.32
|
126.76
|
7.57
|
5.93
|
0.1935
|
|||
33
|
2.65
|
81
|
30.57
|
141.81
|
7.68
|
5.77
|
0.1482
|
|||
28
|
1.97
|
44
|
22.34
|
103.62
|
7.37
|
5.61
|
0.1722
|
|||
22.5
|
0.91
|
16.5
|
18.13
|
84.12
|
7.16
|
5.39
|
0.1704
|
|||
Susu
|
43.5
|
6.67
|
200
|
29.99
|
139.11
|
7.66
|
6.09
|
0.7013
|
0.36
|
0.2188
|
38.5
|
4.7
|
150
|
31.91
|
148.07
|
7.72
|
5.97
|
0.1820
|
|||
33
|
4.1
|
82
|
20
|
92.79
|
7.26
|
5.81
|
0.2489
|
|||
28
|
1.7
|
50
|
29.41
|
136.45
|
7.64
|
5.65
|
0.1430
|
|||
22.5
|
0.74
|
15
|
20.27
|
94.04
|
7.27
|
5.43
|
0.1665
|
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017)
Rata-rata
μ air :0.1734 Poise=0.017 Pa.s
Rata-rata μ susu :0.1918 Poise=0.019 Pa.s
Rata-rata μ susu :0.1918 Poise=0.019 Pa.s
Nilai shear stress terhadap shear rate pada air
menurut Toledo, 2007 adalah 1 atau termasuk ke dalam fluida newtonian,
sedangkan pada hasil praktikum kali ini didapatkan nilai n (slope) sebesar
0.9955, dari hasil literatur dan praktikum terdapat sedikit perbedaan, banyak
faktor yang menyebabkan perbedaannya diantaranya kesalahan saat menghitung
waktu dan volumenya, karena prosesnya begitu cepat saat membuka pipa kapiler
dan menutupnya kembali.
Pada sampel susu nilai n kurang dari 1 yang menandakan fluida ini
bukan merupakan fluida newtonian. Dilihat dari grafik hubungannya susu ini
termasuk kedalam fluida pesedoplastic yang artinya viskositasnya
berkurang dengan bertambahnya shear rate atau kecepatan gradien disebut
juga sebagai shear thinning (Carman, 2008).
Menurut Deeth dan Michael, 2017 air mempunyai viskositas sebesar
1.0 mPa.s atau 10-3 Pa.s pada suhu 200C dan susu
mempunyai nilai 2 kalinya dari air. Dari hasil praktikum didapatkan viskositas
air sebesar 0.017 Pa.s dan susu 0.019 Pa.s bila dibandingkan dengan literatur
sangat jauh. Beberapa faktor yang menyebabkannya diantara lain ir yang
digunakan bukan akuades namun air keran dan suhu air pada saat itu tidak diukur
sedangkan pada literatur suhu airnya 200C selain itu susu yang
menjadi sampel sangat cair sehingga viskositasnya pun rendah dan tidak berbeda
jauh dengan air yang menjadi sampel. Bila data ini dibandingkan dengan hasil pengukuran viskometer digital
maka untuk air pada viskometer digital sebesar 0.026 Pa.s sedangkan pada susu
0.021 Pa.s. Pada sampel air ditemukan perbedaan cukup jauh yakni 0.009 Pa.s
atau 9 mPa.s karena pada percobaan waktunya sangat cepat sehingga mungkin ada
penghitungan waktu yang terlalu cepat atau pun terlalu lama. Pada sampel susu
perbedaannya sangat sedikit, artinya pada percobaan viskositas susu hasilnya
mendekati angka sebenarnya karena alat instrumen viskometer digital sudah
terkalibrasi sehingga keakuratannya lebih tinggi dibandingkan data percobaan.
Tube
Viscometer
Tabel 2. Hasil Pengamatan pada Tube Viscometer
R (jari-jari)
|
0.4
cm
|
ρ air (massa jenis)
|
1 g/cm2
|
h
|
15 cm
|
L
|
10 cm
|
t
|
13.2 s
|
g
|
9.8 m/s2
|
μ
|
0.38808 Pa.s
|
Menurut Deeth dan Michael, 2017 air mempunyai viskositas sebesar
1.0 mPas atau 10-3 Pa.s pada suhu 200C, namun pada
praktikum kali ini didapatkan hasil viskositas air sebesar 0.38808 Pa.s. Hal ini jauh menyimpang dibandingkan
literatur dikarenakan air yang digunakan bukan akuades namun air keran dan suhu
air pada saat itu tidak diukur sedangkan pada literatur suhu airnya 200C.
Viskometer
Digital
Tabel 3. Hasil
Pengamatan Viskometer Digital Sampel Air
μ (Pa.s)
|
%
|
|
2
|
2.78
|
9.1
|
5
|
1.12
|
9.3
|
50
|
0.024
|
20.5
|
60
|
0.026
|
26.4
|
100
|
0.027
|
46.5
|
Viskometer digital yang digunakan pada praktikum kali ini adalah
jenis rotatory vicometer karena prinsip pengukuran viskositasnya dengan
menerapkan rotor penggerak. Dalam menu terdapat plihan kecepatan rotasi dan
jenis spindel dengan mengasilkan nilai viskositas dengan satuan mPa.s. Cara
mengukur dengan viskometer digital jenis rotatory vicometer ini
adalah dengan mencelupkan ujung alat ke cairan lalu dilihat angka viskositasnya
pada alat. (Permono, 2015)
Pada pengukuran menggunakan viskometer digital ada berbagai macam
bentuk spindel sesuai dengan kekentalan cairan. Untuk cairan yang sangat cair
seperti air digunakan spindel dengan ukuran L1. Kemudian diatur RPMnya hingga
mencapai % kepercayaan 15-90% bila diluar rentang tersebut data tersebut tidak
valid atau bukan data yang sebenarnya. Syarat persen yang memenuhi yaitu pada
RPM 50, 60 dan 100 maka viskositas airnya diantara 0.024-0.027 Pas. Pada RPM
200 alat menunjukkan hasil error yang artinya tidak sesuai sehingga tidak menunjukkan
angka dan pada RPM 2 dan 5 %nya diluar rentang sehingga data tersebut tidak
valid. Namun menurut Deeth dan Michael, 2017 air mempunyai
viskositas sebesar 1.0 mPa.s atau 10-3 Pa.s pada suhu 200C
dan susu mempunyai nilai 2 kalinya dari air.
Hal ini jauh menyimpang dibandingkan literatur dikarenakan air yang digunakan
bukan akuades namun air keran dan suhu air pada saat itu tidak diukur sedangkan
pada literatur suhu airnya 200C.
Tabel
4. Hasil Pengamatan Viskometer Digital Sampel Susu
RPM
|
μ
(Pa.s)
|
%
|
10
|
1.09
|
-
|
30
|
0.031
|
15.4
|
50
|
0.02
|
16.9
|
60
|
0.023
|
23.7
|
100
|
0.02
|
34.3
|
Menurut Deeth dan Michael, 2017 susu mempunyai nilai viskositas 2 kalinya dari air. Namun berdasarkan hasil praktikum nilai viskositas susu lebih rendah dibandingkan air, hal tersebut dapat dikarenakan sampel susu yang digunakan encer dan kurang kental sehingga nilai viskositasnya lebih rendah.
Berdasarkan grafik dapat diihat nilai viskositas air lebih tinggi dibandingkan susu. Pada air semakin besar RPMnya maka semakin besr pula viskositasnya namun air bukan termasuk kelompok shear tickening melainkan termasuk kedalam fluida Newtonian. Namun pada susu semakin besar RPMnya semakin rendah viskositasnya (shear thinning).
Berdasarkan grafik dapat diihat nilai viskositas air lebih tinggi dibandingkan susu. Pada air semakin besar RPMnya maka semakin besr pula viskositasnya namun air bukan termasuk kelompok shear tickening melainkan termasuk kedalam fluida Newtonian. Namun pada susu semakin besar RPMnya semakin rendah viskositasnya (shear thinning).
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum karakteristik fluida
didapatkan nilai viskositas air pada alat corong kapiler sebesar 0.017 Pa.s,
pada tube viscometer sebesar 0.38808 Pa.s dan pada alat viskometer digital
sebesar 0.026 Pa.s sedangkan pada sampel susu didapatkan viskositas pada alat
corong kapiler sebesar 0.019 Pa.s dan pada viskometer digital sebesar 0.021
Pa.s.
DAFTAR PUSTAKA
Carman, Steve.
2008. Introduction to Rheology. Western
Nevada College, Carson City, NV.
Deeth, H. C.
dan Michael J. L. 2017. High Temperature
Processing of Milk and Milk Products.
John Willey & Sons Ltd, West
Sussex, UK.
Heldman, D. R.
dan Singh, R. P. 1981. Food Process
Engineering. AVI Publishing Co.,
Westport, CT.
Nurhasanah,
Siti dan Bambang N. 2010. Sifat
Fisik Bahan Pangan. Widya Padjadjaran, Bandung.
Permono,
Ajar. 2015. Membuat Sabun dan Shampo.
Penebar Swadaya Group, Jakarta.
Setiasih,
I. S. 2008. Prinsip Keteknikan Pengolahan
Pangan. Widya Padjadjaran, Bandung.
Toledo, Romeo
T. 2007. Fundamentals of Food
Process Engineering 3rd ed. University
of Georgia, Georgia.
Tidak ada komentar: